Langsung ke konten utama

Gift From God

Hadiah yang bercahaya dan membahagiakan, ini adalah arti  dari nama putri kecil saya dan suami. Athaya Dhia Radinka, kita benar-benar bersyukur sekali bisa dikasih kesempatan untuk bisa jadi orang tua dari putri kecil yang lincah ini. 

Perjalanan panjang saya dan suami untuk dapat putri kecil ini bisa dibilang tidak mulus. Ada fase dimana saya drop, bangkit, drop lagi dan bangkit lagi. hehehe lemah kali mamaya ini. Untung saya punya suami yang super sabar dan bisa menguatkan saya waktu saya lagi ada di posisi terendah. 

Singkat cerita saya dan suami yang sudah menikah lebih dari satu tahun dan mulai bingung plus sebel kalau ditanya kenapa belum punya anak. Rasanya saya mau ngilang saat itu juga. Mungkin pertanyaan itu ditujukan ke kami karena mereka care dengan kita atau mungkin hanya basa-basi untuk cari topik pembicaraan. Tapi percayalah pertanyaan itu gak sebaiknya dilemparkan kepada pasangan yang sudah menikah tapi belum dikaruniai anak seperti saya dan suami.

Semenjak tujuh bulan pernikahan kami, saya dan suami sudah mulai cari berbagai penyebab kenapa kami belum dapat keturunan. Tahap yang pertama kami lakukan adalah datang ke dokter kandungan. Pertama kalinya saya datang ke dokter kandungan, saya di cek USG supaya terlihat ada atau tidaknya kista di rahim saya dan dokter bilang supaya bisa dilihat juga keadaan indung terlur saya. Setelah diperiksa, dokter bilang semua baik-baik saja hanya mungkin kami yang terlalu tidak sabar untuk dapat momongan. Karena sebenarnya pasangan suami istri yang menikah kurang dari satu tahun dan belum memdapatkan anak adalah hal yang sangat wajar. Suami istri baru boleh khawatir kalau pasangan sudah menikah lebih dari satu tahun, berhubungan suami istri secara rutin dan tidak tinggal di kota yang terpisah. Dari sini kami mulai lega karena tidak ada masalah dari sisi saya.

Begitu menginjak satu tahun pernikahan kami mulai was-was karena kami belum juga dikaruniai anak. Akhirnya kami kembali ke dokter kandungan tapi dengan dokter yang berbeda untuk mencari second opinion. Disini kami bertemu dengan dr. Dessy Susilawati H.SpOG, hasil observasi dr. Dessy masih sama dengan dokter yang sebelumnya saya datangi. Beliau menyebutkan bahwa rahim saya sehat dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan mungkin memang Allah yang belum percaya dengan kami. Tapi yang saya suka dari dr. Dessy beliau selalu kasih kami solusi, salah satunya suami saya diminta untuk cek sperma. Karena penyebab pasangan belum dikaruniai anak itu dipengaruhi dari dua belah pihak, bukan hanya dari istri saja. Jadi buat semua temen-teman yang menanti anak, please suami istri harus kerja sama. Suami gak bisa menyalahkan istri ketika kalian belum dikaruniai anak, suami juga harus mau ikut rangkaian tes supaya tau apa penyebabnya kalian belum dikaruniai anak.

Setelah tahu penyebabnya kami gak tinggal diam, saya dan suami sadar kalau momen ini adalah momen dimana kita harus benar-benar saling menguatkan. Sampai ditahap selanjutnya kami memilih lanjut untuk program hamil, kami kembali ke dr. Dessy dan menjalankan semua yang di anjurkan dokter. Tapi ternyata Allah belum mempercayai kami berdua. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke dokter kandungan lainnya. Disini kami pindah ke dokter kandungan lain bukan karena kami tidak cocok dengan dr. Dessy, tetapi pada saat itu kami mempertimbangkan waktu yang lebih fleksibel untuk kami berdua. Kami memutuskan untuk memilih dr Kartika Hapsari SpOG di klinik BWCC (Bintaro Woman and Children Clinic) Bintaro. Alhamdulillah kami cocok sekali dengan dr Kartika. Penjelasannya detail dan yang paling penting bisa membangun semangat kita berdua.

Disela-sela kontrol ke dokter ada beberapa yang saya dan suami saya lakukan, mulai dari pola hidup sehat dengan perbanyak makan sayur, mengurangi makanan yang berpengawet seperti mie rebus, sosis, dan sebagainya, sampai kami juga terapi jeruk nipis (terapi ini saya tulis ditulisan selanjutnya ya J). Selain itu juga kita rajin olahraga, suami saya lebih sering futsal & main basket, sedangkan saya memilih yoga supa lebih rileks dan badan jadi enteng. Pola makan sehat, olahraga kita jalani tujuannya bukan untuk punya anak saja, tapi kami sadar kami harus hidup sehat. Karena kesadaran itu kami dapat rekomendasi dari sepupu saya kalau di daerah Bintaro ada tempat refleksi yang bisa membantu mengobati berbagai penyakit. Dan kami mulai coba datang ke tempat refleksi itu, setelah satu kali refleksi rasanya badan langsung fit lagi walaupun proses refleksinya sakit kayak jari mau putus. Hehehe

Serangkaian perubahan kita jalani tujuannya untuk sehat, urusan dapat momongan itu bonus dari Alloh. Kami jalanin sangat enjoy dan sama sekali tidak ada paksaan. Dan yang paling penting, saya dan suami tidak saling menyalahkan tetapi saling support. Saking kami pasrah dan menikmati prosesnya, saya dan suami sepakat untuk tinggal di Negara terpisah. Pada saat itu suami saya harus dinas  selama dua tahun di Jepang dan saya memutuskan untuk melanjuti S2 saya. Semua kami jalani super santai dan tanpa beban. Sampai akhirnya saya akan tes ujian masuk dan suami saya akan berangkat ke Jepang dalam dua bulan kedepan, ternyata Alloh berkehendak lain. Saya saat itu telat datang bualn, tapi karena sudah terlalu banyak kecewa dengan hasil test pack, saya menahan diri untuk mengambil sampel urin saya. 

Dua minggu saya telat datang bulan, saya baru berani untuk membeli test pack dan melakukan pengecekan. Sambil harap-harap cemas, saya tes di sore hari ternyata taraaaarrrrrrr DUA GARIS! Ya dua garis, saya langsung nangis saking senangnya. Karena gak sabar, besoknya kami langsung datang ke dokter dr Kartika Hapsari SpOG dan dokter bilang benar saya positif hamil. Huuuuh rasanya senang banget. Disitu saya baru percaya kalau gak ada usaha yang sia-sia. Dengan adanya kehamilan ini, saya dan suami memutuskan untuk menjalani kehamilan ini berdua. Artinya, suami saya memutuskan untuk menunda mimpinya dan saya juga menunda S2 saya. Alasannya simpel, kami ini menikmati proses ini sama-sama. Kehamilan ini yang selama ini kita mau, dan kami ingin sama-sama menjalaninya. Untuk mimpi kita yang tertunda, kami punya janji untuk kejar kembali mimpi kita setelah anak kami lahir. Tapi kalau anak, kami gak tau apa kami akan dapat kesempatan kedua atau tidak.

Sampai akhirnya 29 November 2018, kami dilahirkan menjadi orang tua dan lahir pula hadiah dari Alloh untuk kami dengan cara yang sangat indah. Alhamdulillah J

Untuk pasangan diluar sana yang masih menunggu datangnya hadiah, jangan lupa terus semangat berdoa, berusaha dan berserah diri. Kuncinya pasangan harus saling menguatkan dan bukan menyalahkan. Semoga Alloh lekas berikan kepercayaan, karena percayalah tidak ada usaha yang sia-sia J

Semoga sharing saya ini bisa mengingatkan teman-teman semua kalau kalian tidak sendiri. Banyak pasangan lain yang sedang berjuang untuk dapat momongan. Semangat J

Komentar